header

SURVEILANS RESISTENSI OBAT KUSTA DI KABUPATEN BELU NUSA TENGGARA TIMUR

SURVEILANS RESISTENSI OBAT KUSTA DI KABUPATEN BELU NUSA TENGGARA TIMUR
SURVEILANS RESISTENSI OBAT KUSTA DI KABUPATEN BELU NUSA TENGGARA TIMUR Belu – Kusta masih menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia. Sebanyak 9.061 kasus baru kusta ditemukan di Indonesia. Negara kita menjadi menyumbang delapan (08) persen kasus Kusta baru di dunia. Penularan masih terjadi di masyarakat karena tidak semua kasus kusta ditemukan. Kalaupun ditemukan, kepatuhan minum obat belum optimal sehingga masih berpotensi menularkan bahkan dapat menyebabkan resistensi. Hasil surveilans resistensi antimikrobial Kusta tahun 2010 – 2015 mendapatkan 1086 kasus kambuh dan 776 kasus baru. Resistensi terhadap Rimfapisin diidentifikasi pada 57 kasus kambuh (5,2% resistensi sekunder) dan 16 kasus baru (2,1% resistensi primer). Diperkuat dengan hasil kajian BBTKLPP Surabaya pada tahun 2018 lalu dimana masih ditemukan kuman utuh yang berpotensi menularkan pada pasien yang sudah menyelesaikan pengobatan (Release From Treatment/RFT). Untuk memastikan keberhasilan pengobatan dan tidak terdapat resistensi antimicrobial Kusta, BBTKLPP Surabaya menyelenggarakan Surveilans Laboratorium Resistensi Obat Kusta pada 13 – 17 September 2022. Surveilans Laboratorium Resisten Pengobatan Kusta diselenggarakan di tiga (3) puskesmas dengan kasus kusta tinggi di Kabupaten Belu. BBTKLPP Surabaya bekerjsama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Dinas Kesehatan Kabupaten Belu. Tiga Puskemas terpilih adalah Puskesmas Kota Atambua, Puskesmas Weluli, dan Puskesmas Halilulik. Kegiatan dilakukan dengan menemukan penderita dan pengambilan spesimen kerok telinga/skin smear. Sasaran kegiatan adalah penderita kusta dalam proses pengobatan namun tidak menunjukkan perbaikan secara klinis. Penemuan sasaran melalui skrining penderita Kusta RFT. Total terkumpul 34 spesimen skin smear. Spesimen kemudian diuji resistensi antimicrobial menggunakan PCR untuk mengidentifikasi gen gyrA folP1 dan rpoB. Pemeriksaan dilanjutkan dengan sequencing untuk mengetahui ada tidaknya resistensi terhadap Dapson, Rifampisin, dan Ofloxacyn. Penyakit kusta merupakan penyakit infeksi yang menyerang kulit dan saraf, disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Gejala utama penyakit kusta yaitu berkurangnya rasa raba/ mati rasa dan dapat menyebabkan kecacatan pada tahap lanjut. WHO membagi penyakit kusta menjadi tipe pausibasiler (PB) dan multibasiler (MB). Tipe PB merupakan jenis penyakit kusta yang lebih ringan, ditandai oleh bercak putih atau kemerahan berjumlah 1 hingga 5 dan atau adanya 1 gangguan saraf, sedangkan tipe MB ditandai dengan jumlah bercak atau gangguan saraf lebih dari 5. Berita ini disiarkan oleh BBTKLPP Surabaya. BBTKLPP Surabaya menuju Pembangunan Zona Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani. BBTKLPP Surabaya tidak menerima gratifikasi dalam bentuk apapun. Pakai masker Cuci tangan jaga jarak vaksin. Protokol kesehatan, 3T, dan vaksin jodoh sejati kala pandemi. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi telepon (031) 99847651 (pelayanan) dan 99847673 (kesekretariatan) atau email btklsbyhumas@gmail.com.

share

Lainnya

Statistik

  • IP Address : 3.235.173.74

  • Online : 140

  • Hari ini : 6449

  • Kemarin : 322

  • Bulan ini : 12660

  • Tahun ini : 37821

  • Total : 37821

Unit Informasi Teknologi BBTKLPP Surabaya 2005 - 2022