SURVEI EVALUASI PREVALENSI MIKROFILARIA (PRETAS) KABUPATEN MANGGARAI

Manggarai – Masih menjadi satu dari 18 kabupaten endemis  Filariasis di Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada 19 – 25 September 2021 BBTKLPP Surabaya melaksanakan Survei Evaluasi Prevalensi Mikrofilaria (PreTAS) di Kabupaten Manggarai. Bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Laboratorium Kesehatan Daerah NTT, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, kegiatan diawali dengan koordinsi dan On The Job Training bagi petugas pelaksana survei. Survei dilakukan di dua wilayah, sentinel  di Wilayah Puskesmas Reo dan spotcheck di wilayah Puskesmas Satar Mese.
Tujuan kegiatan untuk mengetahui gambaran status endemisitas dan faktor yang mempengaruhi transmisi mikrofilaria. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara responden sehingga diperoleh gambaran faktor risiko Filariasis, terkait pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat. Gambaran endemisitas diperoleh melalui  pemeriksaan darah jari malam hari. Memenuhi target, dikumpulkan sebanyak 688 responden di dua wilayah sentinel dan spotcheck. Selanjutnya slide sediaan darah jari diperiksa secara mikroskopis untuk mengetahui ada tidaknya mikrofilaria di laboratorium BBTKLPP Surabaya.
Survei Evaluasi Prevalensi Mikrofilaria (PreTAS) dilaksanakan di kabupaten/kota yang sudah melaksanakan kegiatan Pemberian Obat Pencegahan secara Massal (POPM) Filariasis tahun ketiga dan kelima. Kegiatan ini sebagai upaya percepatan Provinsi NTT Bebas Filariasis. Sejak akhir 2016 telah dilaksanakan kegiatan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) di 18 kabupaten/ kota. Sampai saat ini masih terdapat sejumlah wilayah endemis Filariasis, meleset dari target Pemerintah Indonesia eliminasi pada tahun 2020. Daerah disebut non endemis Filariasis apabila microfilaria rate  kurang dari < 1 persen (Mf rate <1%). Pada daerah non endemis pengobatan dilakukan secara selektif pada penderita saja. Sedangkam daerah dengan Mf rate lebih dari 1 persen atau daerah endemis harus melaksanakan kegiatan POPM Filariasis.
Filariasis atau penyakit kaki gajah merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan cacing filaria dan ditularkan nyamuk. Filariasis menimbulkan kecacatan menetap seperti pembesaran tungkai atas, tungkai bawah, dan organ genital. Data Dinas Kesehatan Provinsi NTT menunjukkan Manggarai menempati posisi keempat endemisitas tertinggi (8,7 persen) setelah Ende (16.02 persen), Rote Ndao (10,54 persen), dan Lembata (10 persen). Kabupaten lain dengan endemisitas tinggi yaitu Sikka 8,3%. Sedangkan kabupaten dengan endemisitas filariasis nol persen yakni Belu, Sabu Raijua, Kota Kupang, dan Manggarai Barat.
Kontributor     : Hari Gunawan
Editor        : Ratna Ayu

Berita ini disiarkan oleh BBTKLPP Surabaya. BBTKLPP Surabaya menuju Pembangunan Zona Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani. BBTKLPP Surabaya tidak menerima gratifikasi dalam bentuk apapun. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi telepon (031) 3540189 atau email btklsbyhumas@gmail.com.

Informasi Pengunjung
IP Address
Location
: 3.238.204.31
: Indonesia