SURVEI EVALUASI PREVALENSI MIKROFILARIA (PRE TAS) KABUPATEN NGADA

Ngada – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menjadi provinsi dengan kasus klinis kronis Filariasis terbanyak di Indonesia. Delapan belas (18) dari 22 kabupaten/kota NTT merupakan daerah endemis Filariasis atau kaki gajah.
Untuk mempercepat terwujudnya Provinsi NTT bebas Filariasis, sejak akhir 2018 telah dilaksanakan kegiatan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) di 18 kabupaten/ kota tersebut. Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Surabaya bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Laboratorium Kesehatan Daerah NTT, Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada, Puskesmas Lokus, dan Pemerintah Desa Lokus melaksanakan kegiatan Survei Evaluasi Prevalensi Mikrofilaria (PreTAS). Kegiatan ini dilaksanakan bagi setiap kabupaten/kota yang sudah melaksanakan POPM Filariasis tahun ketiga dan kelima.
Pada 14 - 19 Juni 2021 Survei Evaluasi PreTAS diselenggarakan di Kabupaten Ngada. Survei dilakukan di dua desa di dua wilayah puskesmas. Dua desa ini kemudian disebut Desa Sentinel dan Desa Spot Check. Desa Sentinel merupakan desa yang pernah dilaporkan adanya kasus filariasis pada Survei Data Dasar Prevalensi Mikrofilaria sebelum pelaksanaan POPM Filariasis. Adapun desa Spot dipilih diantara desa-desa yang masuk dalam daerah pelaksanaan POPM Filariasis dan belum pernah dilakukan Survei Darah Jari, Survei Data Dasar Prevalensi Mikrofilaria, dan Survei Evaluasi Prevalensi Mikrofilaria. Desa spot check dipilih terutama yang dicurigai berisiko masih terjadinya penularan Filariasis. Pada survei di Kabupaten Ngada, Desa sentinel dipilih Desa Nginamanu, wilayah Puskesmas Natarandang, Kecamatan Wolomeze. Adapun Desa spotcheck dipilih Desa Ukuwanu, Puskesmas Watukapu, Kecamatan Bejawa Utara.
Kegiatan bertujuan untuk mengetahui gambaran status endemisitas filariasis dan faktor yang mempengaruhi transmisi mikrofilaria. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara responden yang juga diambil darah jadi malam hari.  Jumlah responden yang diperiksa darah jari sebanyak 660 responden dari daerah sentinel dan daerah spotchek. Wawancara untuk mendapatkan informasi tentang pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat terkait Filariasis. Pemeriksaab darah jari malam hari untuk mengetahui keberadaan mikrofilaria. Slide sediaan darah jari kemudian dilakukan fiksasi dan pewarnaan. Selanjutnya dipemeriksa secara mikroskopis untuk mengetahui ada tidaknya mikrofilaria pada responden tersebut.
Secara umum, apabila Mikrofilaria Rate (Mf rate)  > 1 % di salah satu atau lebih lokasi desa, maka kabupaten/kota tersebut ditetapkan sebagai kabupaten/kota endemis Filariasis. Sehingga harus melaksanakan kegiatan Pemberian Obat Pencegahan secara Massal (POPM) Filariasis. Apabila Mf rate < 1% pada semua lokasi survei desa, maka kabupaten/kota tersebut ditetapkan sebagai daerah non endemis Filariasis. Sehingga langkah selanjutnya melaksanakan pengobatan selektif, yaitu pengobatan hanya diberikan pada penderita yang positif mikrofilaria.
Pelaksanaan Pre TAS Filaria di NTT tahun 2021 yang dilakukan BBTKLPP Surabaya tak berakhir di Kabupaten Ngada. Selanjutnya survei diselenggarakan di Kabupaten Lembata, Manggarai, dan Malaka.
Berita ini disiarkan oleh BBTKLPP Surabaya. BBTKLPP Surabaya menuju Pembangunan Zona Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani. BBTKLPP Surabaya tidak menerima gratifikasi dalam bentuk apapun. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi telepon (031) 3540189 atau email btklsbyhumas@gmail.com.

Informasi Pengunjung
IP Address
Location
: 3.235.227.117
: Indonesia